Mental Illness

Huaa udah lama banget ngga nulis!😛 been busy with my restoration business. Hari ini gue pengen nulis tentang berita-berita di tivi yang makin ga karu-karuan.

Tiap hari rasanya gemes liat berita tentang ibu yang bunuh anaknya, anak SD yang mendadak jadi serial killer/psychopath, pemukulan dan berita-berita absurd lainnya. Media makin lama makin overrated, lebay dan tendensius. Kalau gue nonton berita-berita itu, patternnya keliatan bahwa si reporter/news programmenya mengarahkan penonton kepada kesimpulan (indirect yah) bahwa misalnya,si anak yang membunuh temannya (waktu itu ada kasus anak sd membunuh teman mainnya terus dibuang ke parit mayatnya – sadis banget yah) membunuh karena latar belakang bahwa anak itu tidak ada yang merawat/kurang perhatian orangtua/lingkungan buruk dan sebagainya yang membuat perilaku dan karakternya seperti itu. Gimana yaaaa menurut gue kok terlalu klise, terlalu generalisasi gitu. Masa iya semudah itu menarik kesimpulan, padahal kan belum tentu. Belum tentu orang yang tinggal di lingkungan buruk jadi criminal semua, belum tentu orang yang kurang perhatian dari orangtuanya jadi psychopath, belum tentu juga orangtua yang divorce membuat anaknya pake drugs, misalnya. Ngga bisa sembarangan generalisasi dan menuduh si ortu atau siapapun itu bersalah looh. Karna menurut gue sebetulnya kasus2 itu bisa lebih kompleks penyebabnya.

Mungkin ngga sih, si anak yang membunuh temannya itu memang dari lahir punya penyakit mentality disorder? Misalnya psychopath? Atau temen kita yang kita selalu cela-celain ansos ternyata punya penyakit sindrom Asperger? Atau seorang ibu yang membunuh bayinya sendiri kemudian kita judge dia sebagai ibu yang gila dan tidak berperasaan ternyata mengidap penyakit bipolar? Ibu yang bunuh bayinya,waktu gue baca beritanya dia katanya dibisikin kaya setan gitu nyuruh bunuh bayinya, dan seperti biasa media kita mengarahkan penonton ke hal-hal spiritual yang mungkiiiin sebetulnya bisa dijelaskan secara medis? Orang-orang yang punya mental illnesskan ada traitsnya, misalnya halusinasi/merasa dibisiki (seperti ada yang ngomong di dalam kepalanya-bisa mengarah ke beberapa sindrom) dan sebagainya. Di luar negeri orang sudah familiar dengan kasus seperti ini dan para psikolog ahlinya sudah banyak. Mereka aware dan sudah tau cara treatmentnya. Tapi kalau di Indo, jarang ada psikolog yang mendalami mental illnesssecara mendalam. Sayang banget padahal sangat krusial perannya.

Contoh yang paling gampang adalah artikel yang beberapa bulan lalu hits “I am Mom of Adam Lanza”  si Adam Lanza ini adalah psychopath yang menembak teman-teman dan guru secara random di sekolah Sandy Hook Elementary. yang menarik dari kasus ini adalah bukan tentang hukum tentang penggunaan senjata, tapi para penembak memiliki personality traits  yang nyaris sama. Apa itu? Mereka ada psychopath traits, range usianya 8-17 tahun. Si penulis memiliki anak dengan karakter personality yang sama yang bikin dia selalu ketakutan sama anaknya sendiri. Akhirnya artikel itu menambah persepsi baru, bahwa mental illnessadalah isu yang sangat krusial di Amerika.

Mengaca pada permasalahan itu, ada baiknya para psikolog di Indonesia pun harus memulai mendalami mental illnessini terkait berita-berita yang makin makin absurd. Latar belakang keluarga berantakan,kemiskinan,lingkungan buruk bukan alasan kuat untuk menjadikan seseorang jadi psychopath loh. Dan penjara gue rasa bukan solusi yang baik dan tidak menjamin bahwa orang itu akan “sembuh” saat keluar penjara nantinya. Ini adalah contoh yang extrim!!

Contoh yang paling simple adalah di sekolah, kita ketemu temen yang sangat penyendiri dan ansos berat yang akhirnya jadi korban bully. Ini kasus yang terjadi di hampir setiap sekolah kan dan kita anggep wajar banget. Tapi pernah ga sih kepikiran kalau orang itu, sebenernya mengidap suatu sindrom depresi? Kita ngga tau apa, tapi bukannya membantu dan berempati sama temen kita itu,kita malah nganggep orang itu freak? Contoh kasus nih, gue punya temen di kampus. Orangnya baik, pendiem, loner berat, kalo ngomong terbata-bata, ngga pedean abis. Dia selalu masuk kampus ga pernah bolos tapi nilainya selalu jeblok. Pada saat itu jaman2nya Friendster bok, sebagai salah seorang temen yang deket sama dia, gue minta di invite ke album privatenya dia, awalnya dia nggamau samsek, tapi gue bujuklah dengan jurus-jurus maut hahhaha..dia invite gue dan gue nyesel luar biasa!!!!

Isi albumnya adalah : his own penis. Tampak samping,tampak depan dan tampak close up. Him masturbating and naked women. Pada saat itu, gue ngga mau ngejudge,ngga mau komentar padahal gemessss banget tapi gue nanya, “kenapa?” entah kenapa dia mau cerita bahwa dia ngga bisa mikirin apapun selain porno sama cewe (dia belom pernah pacaran btw), kalo ngobrol sama cewe dia ngga bisa liat apapun kecuali boobsnya sampe cewe2 merasa risih sambil keringetan jagung. Katanya dia segitu nervousnya. Sampe dia nggatau lagi mau gimana. (cirinya sih mirip yah sama Asperger syndrome) lalu dia cerita tentang keluarganya, bahwa ayahnya sedang sakit stroke dan lagi perawatan alternatif, dia benci banget sama kakak cewenya, dia benci banget sama ibunya dan kondisinya saat itu dia disuruh berenti kuliah biar bisa ngurus ayahnya,yang saat itu hanya mau diobatin shinsei kalau ada temen gue ini. Padahal dia udah semester akhir loh. Dia struggling sendirian kalo dia pengen kuliah tapi keluarganya ngga mendukung. Yang harus diperhatikan bukan kontennya yah, tapi raut mukanya itu berubah 180 drajat, you can see a man who really really hates his life! Tonenya berubah jadi berapi-api. 2 thing for sure, this guy has a depressive syndrome whatever is that and a suicidal traits. That’s scary!! Temen-temen gue sendiri tanpa tau latar belakangnya udah ngejudge aneh banget ini orang, lha wong gamau ngomong, gamau bergaul samsek kecuali sama orang2 yang dia percaya, dan kalo ngobrol tuh ga nyambung abisss. Seandainya dia tau dia mengidap apa dan bisa mengkomunikasikan ke teman2 dan keluarganya, seandainya kita aware sama mental illnessmungkin kita akan jadi orang yang lebih berempati sama orang..mungkin kita akan memiliki persepektif baru sama seseorang,mungkin yaaa..mungkin loohh

Kedepannya, gue berharap kalau kalian menonton berita di televisi liat anak smp bunuh diri karena ga bisa nonton konser, atau berantem karena masalah uang seribu perak, mulailah berempati, lihat dari kacamata baru karena udah saatnya kita aware sama masalah kesehatan mental yang ternyata ngga bisa disepelekan.. 

 

 

 

4 thoughts on “Mental Illness

  1. Wow beraaattt…. Gw mau berkomentar ttg tv (dalam hal ini di indo), yg kadang intonasi reporternya seperti “menuduh”. Bener banget!! Seharusnya media, sebagai sarana informasi, hanya menginformasikan, bukan mengarahkan. Moga2 ada para copy writer tv yang baca tulisan lo ya…

  2. Yudi says:

    Kalau dilihat dari artikelnya, substansi nya bukan hanya sekedar media yang menuduh; tapi mayoritas dari kita juga sebenarnya selalu melakukan itu. Coba saja diingat, semasa SD-SMA, pasti ada waktunya kita men-judge orang itu ‘geek’, ”ansos’, banci’, ‘looser’, tanpa ada basis sama sekali.. Jadi masalahnya sudah jauh mengakar ke budaya dan mindset setiap orang..

  3. @candela
    wajar aja sikk,secara yang jadi reporter rata-rata cuma fresh graduate. yang training juga ga mentingin kualitas, yang penting beritanya dapet + deadline kekejar dan yang terpenting si reporter harus nanya dengan diawalin kata “mengapa?”, “kenapa” walaupun ga ngerti konteksnya,yang penting kesannya kritis dan menohok padahal ga berbobot.

    @yudi
    people being judgemental emang udah part of the culture lagi. orang itu kan emang seneng memperhatikan kehidupan orang lain dan berkomentar dan membandingkan dengan kehidupannya sendiri. padahal karakter seseorang ga bisa dijudge dari apa yang dilakukannya saat itu tapi inget we ngga bisa musuhin semua orang kan yang judging sama kita krn itu part of the culture di Indo,ironisnya. secara kekeluargaan kita kental banget,tapi minusnya ada culture us being judgemental itu. kalo diluar mungkin mindsetnya kaya kita tapi lebih individualis. ada plus minusnya toh?

  4. Setuju banget. Aku jadi inget sama salah satu tokoh dalam film American Horror Story. Si anak jadi pembunuh juga alasannya bukan karena dia gila tapi karena itu dia pendiam, ansos sementara dia punya masalah dan gak tau mesti gimana. Dia jadi depresi dan tertekan. Intinya dia kesepian. Aku selalu kasian sama orang yang merasa begitu karena manusia pada kodratnya hidup sosial.

    Keren neh postnya! Salam kenal btw🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s